Jumat, 04 Sep 2026 NasionalDaerahEkonomiOlahragaTeknologi
Beranda › Berita
Berita

Rambut Rontok Makin Banyak di Musim Kemarau? Begini Penjelasannya

✍️ Dewi 🕒 04 Sep 2026 👁️ 1x dibaca
rontok makin parah saat kemarau
rontok makin parah saat kemarau Foto: Shutterstock.com

Pernahkah kamu menyadari bahwa helai rambut yang tersangkut di sisir atau lantai kamar mandi tampak jauh lebih banyak ketika cuaca sedang terik dan kering? Banyak orang mengira bahwa rambut rontok harian adalah hal biasa, tetapi ketika intensitasnya meningkat drastis di musim kemarau, kekhawatiran tentu mulai muncul. Apakah fenomena ini hanya perasaan belaka, atau memang ada alasan medis dan ilmiah di baliknya?

Musim kemarau tidak hanya berdampak pada suhu udara yang meningkat dan kulit tubuh yang menjadi lebih kering, tetapi juga memengaruhi kesehatan kulit kepala serta siklus pertumbuhan rambut secara signifikan. Berikut adalah penjelasan lengkap mengapa kerontokan rambut bisa makin parah di musim kemarau beserta langkah pencegahan yang bisa kamu lakukan.

1. Efek Udara Panas dan Paparan Sinar UV yang Merusak Struktur Hair Shaft

Sinar matahari yang terik di musim kemarau memancarkan sinar ultraviolet (UV) dalam jumlah tinggi. Sama halnya seperti kulit tubuh, rambut yang sering terpapar sinar matahari secara langsung tanpa perlindungan akan mengalami kerusakan. Radiasi UV dapat merusak lapisan kutikula (lapisan pelindung terluar rambut) dan mendegradasi protein keratin yang menyusun helai rambut. Akibatnya, rambut kehilangan elastisitasnya, menjadi sangat rapuh, kering, dan mudah patah bahkan saat menyisir dengan perlahan.

2. Kulit Kepala Mengalami Dehidrasi dan Gangguan Kelembapan

Suhu udara yang tinggi di musim kemarau membuat kelembapan alami kulit kepala menguap lebih cepat. Ketika kulit kepala mengalami dehidrasi, lingkungan di sekitar folikel (akar rambut) menjadi tidak sehat dan kehilangan kekuatannya untuk menopang batang rambut. Akar rambut yang lemah ini lebih mudah terlepas dari folikelnya, sehingga memicu kerontokan dalam jumlah yang lebih signifikan dibandingkan pada musim hujan atau saat udara lebih lembap.

3. Produksi Minyak Berlebih dan Keringat Memicu Ketombe

Untuk mengompensasi kondisi kulit kepala yang kering akibat cuaca panas, tubuh secara otomatis akan memproduksi lebih banyak sebum atau minyak alami. Ditambah dengan produksi keringat yang meningkat, kombinasi ini menciptakan penumpukan kotoran, sel kulit mati, dan minyak di kulit kepala. Kondisi lembap akibat keringat berlebih menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi jamur Malassezia, penyebab utama ketombe dan peradangan kulit kepala (dermatitis seboroik). Peradangan pada akar rambut ini merusak siklus alami rambut dan mempercepat kerontokan.

4. Fenomena Seasonal Hair Loss (Kerontokan Rambut Musiman)

Secara biologis, manusia mengalami siklus pertumbuhan rambut yang meliputi fase tumbuh (anagen), fase transisi (catagen), dan fase istirahat (telogen). Berdasarkan beberapa studi deregenerasi kulit dan rambut, tubuh manusia cenderung menahan lebih banyak rambut pada fase anagen di awal musim panas untuk melindungi kulit kepala dari paparan sinar UV berlebih. Namun, memasuki pertengahan hingga akhir musim panas atau kemarau, rambut-rambut tersebut secara serentak masuk ke fase telogen (fase rontok). Fenomena seasonal hair loss ini membuat kerontokan terasa sangat banyak dalam satu periode waktu tertentu.

5. Dehidrasi Tubuh Secara Keseluruhan

Di musim kemarau, tubuh kehilangan lebih banyak cairan melalui keringat. Jika kamu kurang mengonsumsi air putih, tubuh akan mengalokasikan asupan air yang ada ke organ-organ vital terlebih dahulu, seperti jantung, ginjal, dan hati. Folikel rambut yang berada di urutan bawah prioritas distribusi nutrisi tubuh, akan kekurangan hidrasi harian. Tanpa asupan air yang cukup dari dalam, kesehatan jaringan akar rambut terganggu, membuat rambut kusam dan mudah rontok.

6. Penggunaan Air Bersuhu Panas atau Berkaporit Tinggi

Saat cuaca panas, kebiasaan keramas sering kali meningkat menjadi lebih sering. Namun, jika kamu menggunakan air yang mengandung kaporit (seperti saat sering berenang di musim kemarau untuk menyegarkan diri) atau mencuci rambut menggunakan air hangat, minyak alami pada kulit kepala akan terkikis habis. Hal ini menyebabkan folikel rambut menjadi stres dan semakin rapuh.

Langkah Efektif Mencegah Rambut Rontok di Musim Kemarau

Untuk mengatasi kerontokan berlebih selama cuaca kering dan panas, kamu bisa menerapkan beberapa panduan perawatan sederhana berikut:

  • Gunakan Pelindung Kepala: Manfaatkan topi bertepi lebar, payung, atau kain pelindung saat beraktivitas di luar ruangan di bawah terik matahari.

  • Gunakan Sampo yang Melembapkan: Pilih produk perawatan rambut yang bebas sulfat (sulfate-free) dan mengandung bahan pelembap alami seperti aloe vera, minyak argan, atau ceramide.

  • Cukupi Kebutuhan Fluid Tubuh: Minum air putih minimal 2 liter sehari untuk memastikan distribusi hidrasi mencapai akar rambut.

  • Hindari Penggunaan Alat Styling Panas: Kurangi penggunaan hair dryer atau catokan yang dapat memperparah kekeringan pada batang rambut.

  • Lakukan Pijatan Lembut pada Kulit Kepala: Mengaplikasikan hair oil (seperti minyak kelapa atau minyak zaitun) seminggu sekali disertai pijatan lembut dapat memicu sirkulasi darah di folikel rambut.

Kesimpulan

Kerontokan rambut yang meningkat di musim kemarau bukanlah hal yang perlu membuat kamu panik secara berlebihan. Fenomena ini merupakan kombinasi dari respons biologis tubuh (seasonal hair loss) serta dampak lingkungan seperti sinar UV, dehidrasi kulit kepala, dan penumpukan minyak berlebih. Dengan memahami penyebab utamanya dan melakukan perawatan intensif yang berfokus pada hidrasi serta perlindungan dari paparan matahari langsung, kamu dapat menjaga kekuatan akar rambut dan menekan tingkat kerontokan hingga cuaca kembali normal.

D
DewiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update