8 Perubahan Hormonal Pemicu Ketombe yang Perlu Kamu Ketahui
Ketombe adalah masalah rambut umum yang seringkali dipicu oleh fluktuasi hormon. Pubertas, siklus menstruasi, kehamilan, dan stres adalah beberapa perubahan hormonal yang dapat menyebabkan kulit kepala berminyak dan memicu pertumbuhan jamur penyebab ketombe.
Lebih dari 50% populasi dunia mengalami ketombe, masalah rambut terbesar di Indonesia yang seringkali dipicu oleh perubahan hormonal. Ketombe adalah kondisi kulit kepala dengan serpihan putih atau kekuningan disertai rasa gatal, yang diduga kuat berkaitan dengan gangguan kelenjar penghasil minyak berlebih. Produksi minyak ini dikendalikan oleh hormon, sehingga fluktuasi hormon menjadi faktor penting yang memicu kondisi ini, terutama karena interaksi dengan jamur alami Malassezia globosa.
Berikut adalah 8 perubahan hormonal yang dapat menyebabkan rambut berketombe dan penjelasan detailnya.
1. Pubertas
Masa pubertas ditandai oleh fluktuasi hormon signifikan, khususnya peningkatan hormon androgen yang merangsang kelenjar sebaceous memproduksi sebum berlebihan. Kulit kepala yang lebih berminyak ini menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan jamur Malassezia globosa, mengiritasi kulit kepala dan menyebabkan pengelupasan sel kulit mati lebih cepat. Ketombe sering mulai muncul sekitar usia 15 tahun dan pria cenderung lebih sering mengalaminya karena produksi minyak yang lebih banyak.
2. Siklus Menstruasi
Selama siklus menstruasi, wanita mengalami perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron yang dapat memengaruhi aktivitas kelenjar minyak di kulit kepala. Fluktuasi ini menyebabkan peningkatan produksi sebum, membuat rambut lebih mudah lepek dan kulit kepala lebih rentan terhadap pertumbuhan jamur Malassezia. Kondisi ini pada akhirnya memicu atau memperburuk ketombe yang sudah ada.
3. Kehamilan
Kehamilan membawa perubahan hormonal drastis dalam tubuh wanita, dengan peningkatan kadar estrogen dan progesteron yang memengaruhi kesehatan kulit kepala.
Kulit kepala cenderung menghasilkan lebih banyak minyak dan proses pergantian sel kulit dapat meningkat, menciptakan penumpukan sel kulit mati dan minyak berlebihan yang mendukung munculnya ketombe.
Berkurangnya aliran darah hepatik selama kehamilan juga dapat meningkatkan kadar hormon dan kolesterol, memungkinkan mikroba berkembang biak di kulit.
4. Pasca Melahirkan dan Menyusui
Setelah melahirkan, tubuh wanita mengalami penurunan kadar hormon secara tiba-tiba dan penyesuaian hormonal yang signifikan.
Perubahan ini dapat memicu peningkatan produksi minyak di kulit kepala, menjadi faktor utama penyebab ketombe.
Selain itu, stres dan kelelahan yang umum dialami ibu pasca melahirkan dan menyusui juga dapat mengganggu keseimbangan hormonal, memperburuk kondisi kulit kepala termasuk ketombe.
5. Menopause
Menopause adalah periode di mana kadar hormon wanita, terutama estrogen, menurun secara drastis, memengaruhi produksi minyak di kulit kepala. Ketidakseimbangan hormonal ini dapat mengubah kondisi kulit kepala, membuatnya lebih rentan terhadap kekeringan atau, pada beberapa kasus, memicu pertumbuhan jamur Malassezia yang menyebabkan ketombe.
6. Stres
Stres, baik fisik maupun emosional, memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol. Kortisol berlebihan dapat merangsang kelenjar sebaceous memproduksi lebih banyak sebum, membuat kulit kepala lebih berminyak dan kondusif untuk pertumbuhan berlebihan jamur Malassezia. Stres kronis juga menurunkan sistem kekebalan tubuh, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi jamur yang berperan dalam perkembangan ketombe, serta mengganggu keseimbangan hormon secara umum.
7. Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)
PCOS adalah gangguan hormonal umum pada wanita usia subur yang ditandai oleh ketidakseimbangan hormon, khususnya peningkatan kadar hormon androgen berlebihan.
Peningkatan androgen ini secara langsung menyebabkan peningkatan produksi sebum di kulit kepala, yang dapat memicu jerawat dan ketombe karena kulit kepala menjadi lebih berminyak dan rentan terhadap pertumbuhan jamur penyebab ketombe.
8. Gangguan Tiroid
Kelenjar tiroid menghasilkan hormon vital untuk mengatur metabolisme, energi, suhu tubuh, dan pertumbuhan, termasuk kesehatan folikel rambut.
Hipotiroidisme, yaitu kekurangan hormon tiroid, dapat menyebabkan kulit dan rambut kering serta rambut rontok, memicu ketombe kering.
Sementara itu, hipertiroidisme yang merupakan kelebihan hormon tiroid, meskipun lebih sering dikaitkan dengan keringat berlebih dan kulit berminyak, ketidakseimbangan hormon secara umum dapat memengaruhi kesehatan kulit kepala dan rambut, memperburuk kondisi ketombe atau menciptakan lingkungan yang mendukungnya.
Selain perubahan hormonal, ketombe juga dapat disebabkan oleh kulit kepala kering akibat suhu dingin, kulit kepala berminyak atau dermatitis seboroik, infeksi jamur Malassezia globosa, dan pembilasan rambut yang tidak memadai. Jarang keramas, penggunaan produk rambut yang tidak tepat, serta penyakit kulit lain seperti psoriasis atau eksim juga berkontribusi. Pola makan tidak sehat, sistem kekebalan tubuh yang lemah, dan faktor genetik turut berperan dalam munculnya ketombe.
Untuk mengatasi ketombe, kamu bisa menggunakan sampo antiketombe yang mengandung bahan aktif seperti zinc pyrithione, ketoconazole, atau selenium sulfide, dan keramas secara teratur sambil memastikan pembilasan bersih. Mengelola stres melalui tidur cukup dan banyak minum air putih penting, begitu juga dengan memperhatikan pola makan bergizi seimbang yang kaya zinc, vitamin B, dan protein. Hindari produk rambut yang tidak cocok dan menggaruk kulit kepala berlebihan agar tidak memperparah iritasi. Jika ketombe parah atau tidak membaik, segera konsultasikan dengan dokter atau dermatolog untuk penanganan lebih lanjut.
Ketombe yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi seperti dermatitis seboroik, infeksi sekunder, kerontokan rambut parah, dan menurunkan rasa percaya diri.
Penanganan ketombe yang efektif memerlukan pemahaman akan penyebabnya, termasuk faktor hormonal, dan pendekatan yang holistik, menggabungkan perawatan rambut yang tepat, gaya hidup sehat, dan pengelolaan stres.
Pastikan untuk memverifikasi informasi terkini sebelum memutuskan perawatan.
Disusun dengan bantuan penelusuran web dari: halodoc.com, alodokter.com, klikdokter.com, zalora.co.id, headandshoulders.co.id, tempo.co, ioraclinic.com, cnnindonesia.com.
