Selasa, 03 Nov 2026
Beranda › Berita
Berita

8 Perubahan Hormonal Ini Bisa Picu Rambut Rontok Signifikan

✍️ Dewi 🕒 17 Sep 2026 👁️ 5x dibaca
rontok6
rontok6 Foto: klikdokter.com

Sekitar 50 hingga 100 helai rambut secara normal rontok setiap hari. Namun, kerontokan rambut yang melebihi jumlah tersebut atau menyebabkan penipisan signifikan dapat menjadi tanda adanya masalah mendasar.

Salah satu penyebab utama kerontokan rambut parah adalah perubahan hormonal. Siklus pertumbuhan rambut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk hormon.

Memahami perubahan hormonal yang terjadi menjadi langkah pertama untuk menemukan solusi efektif.

Berikut adalah 8 perubahan hormonal yang dapat memicu kerontokan rambut signifikan:

1. Kehamilan dan Pasca Melahirkan

Selama kehamilan, kadar hormon estrogen yang tinggi memperpanjang fase pertumbuhan rambut sehingga terlihat lebih tebal. Setelah melahirkan, kadar estrogen turun drastis kembali ke tingkat normal.

Penurunan hormon ini menyebabkan sejumlah besar folikel rambut secara bersamaan memasuki fase istirahat dan kemudian rontok secara difus atau menyebar di semua area kepala.

Kondisi ini umumnya muncul sekitar 3-4 bulan setelah melahirkan dan biasanya berlangsung 3-6 bulan; kerontokan ini bersifat sementara dan rambut akan tumbuh kembali.

2. Menopause

Kadar hormon estrogen pada wanita menurun selama menopause, yang meningkatkan pengaruh hormon pria (androgen) pada akar rambut.

Penurunan ini dapat memperpendek fase pertumbuhan rambut, sehingga rambut di sekitar bagian tengah kepala menjadi tipis dan garis rambut mundur.

Wanita umumnya mengalami penipisan rambut yang membuat kulit kepala lebih terlihat, berbeda dengan pria yang cenderung mengalami kebotakan total.

Penanganan melibatkan pemeriksaan kadar hormon, pola makan sehat, dan konsultasi dokter untuk terapi sulih hormon.

3. Gangguan Tiroid

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang berperan penting dalam mengatur metabolisme dan pertumbuhan sel, termasuk folikel rambut.

Baik hipotiroidisme (kekurangan hormon tiroid) maupun hipertiroidisme (kelebihan hormon tiroid) dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut. Kerontokan rambut bisa terjadi secara menyeluruh, membuat rambut menjadi lebih tipis dan rapuh.

Kerontokan ini bersifat sementara dan rambut dapat tumbuh kembali setelah kadar tiroid kembali normal melalui pengobatan yang sesuai.

4. Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)

PCOS adalah kondisi hormonal yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon, khususnya kelebihan hormon androgen. Kadar androgen yang tinggi ini dapat mempercepat penipisan rambut di kulit kepala.

Gejala lain sering menyertai seperti pertumbuhan rambut berlebih di bagian tubuh lain, jerawat parah, dan siklus menstruasi tidak teratur.

Rambut rontok karena PCOS mungkin tidak dapat tumbuh kembali dengan sendirinya, namun perawatan seperti pengaturan hormon dan suplementasi zinc dapat merangsang pertumbuhan rambut baru.

5. Alopecia Androgenetik

Ini adalah penyebab kerontokan rambut paling umum, dipengaruhi oleh faktor genetik dan hormon androgen, terutama Dihydrotestosterone (DHT).

Kadar DHT yang tinggi di folikel rambut menyebabkan folikel menyusut dan memperpendek fase pertumbuhan rambut.

Pada pria, kerontokan terjadi bertahap dengan penipisan di bagian depan dan atas kepala, sementara pada wanita rambut menipis di bagian tengah kepala.

Perawatan seperti Minoxidil atau Finasteride dapat memperlambat proses dan merangsang pertumbuhan rambut.

6. Penggunaan Kontrasepsi Hormonal

Beberapa jenis kontrasepsi hormonal, terutama yang mengandung progestin dengan aktivitas androgenik, dapat mengacaukan kadar hormon tubuh.

Hal ini dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut, mendorong folikel rambut ke fase istirahat lebih cepat.

Kerontokan rambut bisa terjadi saat mulai mengonsumsi, berganti merek, atau berhenti menggunakan kontrasepsi hormonal.

Kondisi ini biasanya bersifat sementara, dan konsultasi dengan dokter untuk penggantian jenis kontrasepsi dapat menjadi solusi.

7. Stres

Stres fisik dan emosional yang intens atau berkepanjangan dapat meningkatkan kadar hormon kortisol.

Peningkatan kortisol ini diketahui dapat mengganggu fungsi sel-sel yang berperan dalam pertumbuhan rambut, serta mendorong sejumlah besar folikel rambut masuk ke fase istirahat lebih cepat.

Kerontokan rambut massal biasanya muncul beberapa bulan setelah kejadian pemicu stres, namun umumnya bersifat sementara dan akan membaik setelah sumber stres teratasi.

Mengelola stres dengan baik melalui istirahat dan relaksasi menjadi kunci utama.

8. Pubertas

Fluktuasi hormon estrogen dan androgen yang terjadi selama masa pubertas dapat memengaruhi folikel rambut. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kerontokan rambut pada wanita usia muda.

Jika kerontokan parah atau mengkhawatirkan, konsultasi dengan dokter atau dermatolog disarankan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Rambut rontok akibat perubahan hormonal adalah kondisi umum yang tidak boleh diabaikan. Identifikasi penyebab pasti kerontokan rambut krusial untuk menentukan penanganan yang tepat.

Jika mengalami kerontokan rambut berlebihan, tiba-tiba, atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan dengan dokter atau dermatolog untuk diagnosis dan penanganan yang sesuai.

Penanganan dini dapat membantu mencegah kerontokan semakin parah dan mendukung pertumbuhan rambut sehat kembali. Pastikan untuk selalu memverifikasi informasi terkini sebelum mengambil keputusan terkait perawatan kesehatan.

Disusun dengan bantuan penelusuran web dari: alodokter.com, halodoc.com, continentalhospitals.com, primayahospital.com, siloamhospitals.com, gleneagles.com.my, plantur39.com, klikdokter.com.

D
DewiEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update